SIKAP ETIS KRISTEN TERHADAP PERCERAIAN MENURUT MARKUS 10:9

Authors

  • Jefry Lodewyck Institut Injil Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52157/me.v8i2.102

Keywords:

sikap etis Kristen, perceraian, Markus 10:9

Abstract

Semua orang percaya harus memahami dan meyakini bahwa Allah sumber kasih (Roma 5:8). Adalah penting untuk setiap manusia memahami, dan mengalami kasih Allah dalam pengalaman nyata sehari-hari (Ibr. 2:9). Allah sebagai desainer pernikahan, telah mendesain pernikahan sebagai satu lembaga ciptaan Allah yang tertua dalam dunia ini. Sebelum ada satu bangsa, kerajaan, bahkan gereja, Allah terlebih dahulu menciptakan satu unit keluarga. Kasih dalam hubungan Adam dan Hawa begitu harmonis meniktmati kasih Tuhan di dalam Taman Eden. Pernikahan adalah suatu hal yang unik, juga indah dan kudus.Alkitab memberikan gambaran hubungan suami istri seperti hubungan Kristus sebagai mempelai laki-laki dengan orang-orang percaya sebagai mempelai perempuan (Efesus 5:22-23). Kegagalan hubungan suami-istri yang diikuti perceraian adalah salah satu dari sekian banyak realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia. Yang penting membedakan antara kedua fenomena itu: Keinginan seorang istri atau seorang suami untuk bercerai adalah akibat dari kegagalan hubungan kasih. Kasih berperan penting dalam kelangsungan hidup pernikahan karena kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Pet.4:8). Karena kasih juga membuat seseorang rela berkorban (Ams.17:17), bahkan memberikan nyawanya. Perceraian bukanlah jalan akhir untuk penyelesaian masalah dalam pernikahan. Masih ada mujizat bagi orang yang percaya kepadaNya. Seungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar (Yes. 59:1). Hubungan suami-istri yang harmonis sangat bergantung kepada pengertian kedudukan suami dan istri menurut Alkitab, dan bagaimana baik suami maupun istri menempatkan diri sesuai dengan pengertian itu.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anderson, Hugh.
1976 Marks
Bammel, Ernst.
1970 Eherecht
Douglas, J.D.
1995 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih
Dschulnigg, Peter.
2007 Markusevangelium. Stuttgart: Kohlhammer.
Evans, Craig.
2001 Mark
Hocking, D.
1993 Rahasia Keberhasilan Seorang Pemimpin. Yogyakarta: Yayasan Andi
Herron, Robert.
1982 Mark’s Jesus
Keener, Craig.
1992 And Maries Another.
Lase, J.
2009 Konseling Pastoral. Bandung: Jurnal Info Media
Pesch, Rudolf.
2000 Markusevangelium
Sanger, Dieter.
1999 Schriftauslegung
Scheunemann, D.
1987 Romantika Kehidupan Suami-Istri. Malang: Gandum Mas
Sinaga, J.
2004 Tujuh Pilar Pernikahan. Jakarta: Divisi Pengajaran GBI Jl Gatot Subroto
Schafer, R.
2017 Bercerai Boleh Atau Tidak?. Jakarta: Gunung Mulia
Sopater, S.
1990 Studi Kasus Pastoral III. Jakarta: Gunung Mulia
Via, Dan O.,
1985 The Ethics of Mark’s Gospel. Philadelphia: Fortress.
Van Iersel.
1998 Sieffield: Academic Press.
Zimmerman,
tt Zitation

Sumber Internet:
https://www.alodokter.com/hilangkan-ego-ini-dampak-perceraian-terhadap-anak
https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/dampak-perceraian-pada-psikologis-anak
www.gotquestions.org/indonesia/kitab-injil-Markus
https://alkitab.sabda.org/article.php?id=173
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Markus

Published

2019-10-30

How to Cite

Lodewyck, J. (2019). SIKAP ETIS KRISTEN TERHADAP PERCERAIAN MENURUT MARKUS 10:9. Missio Ecclesiae, 8(2), 155-171. https://doi.org/10.52157/me.v8i2.102

Issue

Section

Articles